Jambu Bool

Seputar JAMBU BOL (Syzygium malaccense L.)

1.   SEJARAH SINGKAT

Jambu bol atau jambu dersana merupakan tanaman buah tahunan yang berasal
dari kawasan Indo-Cina, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Literatur lain
menyimpulkan bahwa jambu bol berasal dari Malaysia. Di Indonesia
penyebaran
jambu bol terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Nama daerah jambu bol adalah jambu ripu (Aceh), dharsana (Madura), jambu
bol
(Sunda, batak, lampung), Myambu bol (Bali), Jambu bo (Minangkabau),
jambu boa
(Jambi) dan maufa (Nias).

2.   JENIS TANAMAN

Klasifikasi jambu bol adalah sebagai berikut:
Divisi        : Spermatophyta
Sub divisi    : Angiospermae
Kelas         : Dicotyledonae
Keluarga     : Myrtaceae
Genus        : Syzygium
Spesies      : Syzygium malaccense (L.) Merr & Perry

Tanaman tahunan ini dapat hidup sampai puluhan tahun. Dua jenis jambu
bol lokal
yang biasa ditanam adalah jambu bol merah Cianjur dengan potensi 80-100
kg/musim/pohon dan jambu bol putih Congkili dengan potensi1.125-1.250
kg/musim/pohon. Varietas baru berumur genjah adalah Si Mojang yang dapat
dipanen 3 kali dalam setahun.

3.   MANFAAT TANAMAN

Buah jambu bol yang rasanya segar dan baunya sangat harum dijadikan
makanan
buah segar yang disantap tanpa diolah.

4.   SENTRA PENANAMAN

Jawa Barat (Lebak, Bogor, Cianjur, Garut, Ciamis, Sumedang, Subang),
Jawa Timur
(Purworejo, Boyolali, Karanganyar, Sragenm Jepara), Jawa Tengah (Malang,
Banyuwangi, Pamekasan) dan DI Yogyakarta (Kulon Progo). Pada tahun 1991,
produksi di pulau Jawa mencapai 51.763 kwintal/tahun. Luas produksi
sukar
dipastikan karena belum ada perkebunan jambu bol, umumnya ditanam
sebagai
tanaman pekarangan saja. Diperkirakan jumlah pohon di Pulau Jawa
mencapai
879.533. Produksi jambu bol dari tahun ke tahun dapat dikatakan konstan.

5.   SYARAT TUMBUH

5.1. Iklim

1) Tanaman jambu bol dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki
curah
    hujan 500­3.000 mm/tahun.
2) Dalam Pertumbuhannya tanaman jambu bol memerlukan intensitas cahaya
    matahari sebesar 40-80%.
3) Temperatur yang ideal untuk pertumbuhan tanaman jambu bol adalah
18­28
    derajat C
4) Kelembaban udara antara 50­80 %

5.2. Media Tanam

1) Tanah yang cocok adalah tanah yang subur, gembur, banyak mengandung
bahan
    organik.
2) Tanah Inseptisol sangat baik, sedangkan tanah yang tidak terlalu
subur seperti
    Ultisol dan Oksisol (Podsolik Merah Kuning) masih baik untuk budidaya
jambu bol
    setelah diberi pupuk dan kapur.
3) Tanah dengan keasaman (pH) antara 5,5-7,5 sangat cocok untuk
    pertumbuhannya.

5.3. Ketinggian Tempat

Tanaman jambu bol mempunyai daya adaptasi yang besar di lingkungan
tropis dari
dataran rendah sampai tinggi yang mencapai 1.200 m dpl.

6.    PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

1) Persyaratan Benih

    Biji berasal dari varietas unggul, berumur lebih dari 15 tahun,
produktif dan
    produksi stabil. Biji berasal dari buah masak pohon, yang besarnya
normal dan
    mulus. Biji dikeringanginkan selama 1-3 hari di tempat teduh.
Biji-biji yang
    memenuhi syarat adalah berukuran relatif besar, ukuran seragam,
bernas dan
    tidak cacat.

2) Pembuatan Persemaian

    Persemaian dapat dilakukan di dalam bedengan atau polybag.
    a) Bedengan
       1. Olah tanah sedalam 30-40 cm dengan cangkul, keringanginkan
15-30 hari.
          Buat bedengan lebar 100-120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang sesuai
lahan dan
          jarak antar bedengan 60 cm.
       2. Campurkan 2kg/m2 pupuk kandang dengan tanah bedengan
       3. Buat sungkup bedengan berbentuk setengah lingkaran dengan
tinggi pusat
          lingkaran minimal 50 cm. Naungi sungkup dengan plastik bening.
    b) Polybag
       1. Lubangi dasar polybag diameter 10-15 cm.
       2. Isi polybag dengan media berupa campuran tanah, pupuk kandang
(2:1)
       3. Simpan polibag di dalam sungkup.

3) Teknik Penyemaian Biji

    a) Bedengan
       1. Siram tanah bedengan.
       2. Buat lubang semai pada jarak 15 x 10 cm.
       3. Semai biji di lubang sedalam 3-5 cm dan tutup dengan tanah
tipis, siram
          kembali.
    b) Polybag
       1. Siram media di dalam polybag.
       2. Semaikan satu biji sedalam 3-5 cm, tutup dengan tanah dan siram
          secukupnya.

4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

    a) Penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari, terutama jika kemarau.
    b) Penyiangan dilakukan sesuai dengan pertumbuhan gulma.
    c) Pemupukan setiap 3 bulan dengan urea, SP-36 dan KCl (2:1:1)
sebanyak 50-
       100 g/m2 atau 4 g/polibag.
    d) Penyemprotan pestisida dengan konsentrasi 30-50% dari dosis
anjuran.
    e) Membuka sungkup jika cuaca cerah secara berangsur-angsur agar
tanaman
       dapat beradaptasi dengan lingkungan kebun.

5) Pemindahan Bibit

    Bibit di bedengan dipindahkan ke polybag setelah berumur 6 bulan.
Pindah tanam
    ke lapangan dilakukan setelah bibit berumur 10-12 bulan di
persemaian.

6) Bibit Enten (Grafting)

    Model sambungan yang terbaik adalah sambungan celah. Batang bawah
berasal
    dari bibit hasil perbanyakan dengan biji yang berumur 10-12 bulan
sedangkan
    pucuk berasal dari pohon induk unggul. Setelah disambung, bibit
dipelihara
    selama 2-3 bulan.

7) Bibit Cangkok

    Cabang yang akan dicangkok berada pada tanaman yang unggul dan
produktif.
    Cabang yang dipilih tidak terlalu tua/muda, berwarna hijau
keabu-abuan/kecoklat-
    coklatan dengan diameter sedikitnya 1.5 cm. Setelah 2-2,5 bulan
(sudah berakar),
    bibit segera dipotong dan ditanam di polybag dengan media campuran
tanah:
    pupuk kandang 1:1. Bibit dipelihara 1 bulan.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan

    Lahan hanya diolah di lubang tanam dan dilaksanakan 15-30 mhari
sebelum
    tanam. Jarak tanam jambu bol adalah 8 x 8 m dengan lubang tanam
berukuran 60
    x 60 x 50 cm.

2) Pembuatan Lubang Tanam

    Gali lubang tanam sedalam 25 cm sehingga membentuk lubang dangkal 60
x 60 x
    25 cm Tempat kan tanah galian di satu sisi. Gali kembali sampai
kedalaman 50
    cm dan tempatkan tanah galian di sisi lain. Keringanginkan 15-30
hari. Masukkan
    tanah galian lapisan bawah. Campurkan 20-40 kg/ha pupuk kandang
dengan
    tanah galian atas dan masukkan ke dalam lubang. Sementara itu, pilih
dan
    siapkan bibit yang memenuhi syarat dan sehat, keperluan bibit per
hektar adalah
    156 buah.

6.3. Teknik Penanaman

1) Pembuatan Lubang Tanam

    Lubang tanam dibuat dengan menggali lahan berukuran 30 x 30 x 30 cm.

2) Cara Menanam

    Bibit ditanam di awal musim hujan kecuali jika air selalu berlimpah.
    a) Taburkan insektisida 100 gram Furadan 3 G dan 100-150 gram
campuran urea,
       SP-36 dan KCl (2:1:1) ke dalam lubang tanam.
    b) Siram media polybag, sobek polybag, keluarkan bibit beserta
tanahnya dan
       tanamkan di lubang. Siram secukupnya.
    c) Timbun dengan tanah sampai pangkal batang dan padatkan tanah di
sekitar
       batang.
    d) Pasang tiang penyangga di sisi kiri/kanan dan ikat tanaman ke
tiang
       penyangga.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman

    Dilakukan sebelum tanaman berumur 1 bulan. Bibit yang tidak tumbuh
diganti
    dengan bibit baru yang ditanam pada lubang tanam yang sama.

2) Perempalan/Pemangkasan

    Pemangkasan bertujuan untuk membentuk pohon dan sekaligus
meningkatkan
    produktifitas.
    a) Pemangkasan I
       1. Tanaman berumur kurang dari 1 tahun
       2. Memotong ujung batang sampai ketinggian 70-100 cm dari tanah
       3. Setelah cabang primer terbentuk, dipilih dua atau tiga cabang
primer terbaik
          dan dibiarkan tumbuh sampai 50 cm.
    b) Pemangkasan II
       1. Memotong ujung batang cabang primer yang sudah berukuran
panjang 50
          cm.
       2. Cabang primer dipotong sampai 30 cm dari pangkalnya. Setelah
cabang
          sekunder terbentuk, dipilih 3 cabang sekunder terbaik.
    c) Pemangkasan III
       1. Memotong cabang sekunder sampai 30-50 cm dari pangkalnya.
       2. Setelah cabang tersier terbentuk, pelihara 3 cabang tersier.
       3. Pemangkasan dihentikan.

3) Pemupukan

    Jenis pupuk dan dosis (gram/pohon/tahun) yang digunakan adalah
sebagai
       berikut:
    a) Umur tanaman 1 tahun: Urea=200; SP-36=100; KCl=100; frekuensi
       pemupukan= 4x.
    b) Umur tanaman 2 tahun: Urea=200; SP-36=100; KCl=100; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    c) Umur tanaman 3 tahun: Urea=250; SP-36=125; KCl=125; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    d) Umur tanaman 4 tahun: Urea=300; SP-36=150; KCl=150; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    e) Umur tanaman 5 tahun: Urea=400; SP-36=200; KCl=200; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    f) Umur tanaman 6 tahun: Urea=200; SP-36=400; KCl=200; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    g) Umur tanaman 7 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    h) Umur tanaman 8 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    i) Umur tanaman 9 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    j) Umur tanaman 10 tahun: Urea=250; SP-36=500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.
    k) Umur tanaman > 10 tahun: Urea 250; SP-36-500; KCl=250; frekuensi
       pemupukan= 3x.

4) Pengairan dan Penyiraman

    Ketika masih muda, tanaman diairi 1-2 kali sehari. Jika sudah cukup
besar dan
    perakarannya dalam, tanaman disirami 10-2 kali sebulan. Pemberian air
dilakukan
    dengan cara disiram di sekeliling tajuk.

5) Pemulsaan

    Mulsa jerami kering dihamparkan setelah tanam di sekeliling tajuk
tanaman
    dengan ketebalam 3-5 cm.

6) Pembungkusan Buah.

    Buah dibungkus 7-10 hari sebelum panen untuk mencegah serangan lalat
buah
    dan mendapatkan warna kulit bagus. Pembungkusan buah menggunakan ijuk
    yang membungkus rangkaian buah. Ijuk diikat di kedua ujung rangkaian
buah.

7.   HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

1) Ulat parasa/ulat bajra (Parasa lepida Cr.)

    Ciri: ulat berwarna kuning kehijauan dengan garis biru di punggung,
berukuran
    20-25 cm dan berbulu yang menyebabkan rasa gatal. Gejala: daun robek
atau
    bolong tidak teratur. Pengendalian: kimia dengan insektisida Decis
2,5
    EC/Curacron 500 EC.

2) Ulat trabola (Trabala pallida)

    Ciri: tubuh ulat bagian kiri dan kanan berbulu lebat, dengan kepala
merah bergaris
    kuning. Gejala: menyerang daun dan pada serangan berat dapat
menyebabkan
    tanaman gundul. Pengendalian: insektisida Decis 2,5 EC atau Curacron
500 EC.

3) Lalat megatrioza (Megatrioza vitiensis Kiri.)

    Ciri: lalat kecil berwarna hitam kekuningan. Gejala: larva menyerang
buah dengan
    cara menggerek dan melubangi dan hidup di dalamnya. Buah dapat gugur.
    Pengendalian: membungkus buah dengan ijuk; menggunakan perangkap
    berbahan aktil metyl eugenol; insektisida sistemik Perfekthion 400 EC
dengan
    cara infus akar/batang menjelang masa berbunga.

4) Lalat bisul (Procontarini mattiana Kieff & Cicec)

    Gejala: daun berbintil-bintil atau berbisul kecil. Pengendalian:
memangkas daun
    yang terserang, sanitasi kebun dan insektisida sistemik Perfekthion
400 EC.

7.2. Penyakit

1) Antraknose

    Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporoides. Gejala: daun menjadi
keriting di
    daerah tepi dan ujung daun mati, tunas mengering dan mati, buah
matang
    berbercak-bercak coklat tua sampai hitam. Pengendalian dengan
sanitasi kebun,
    memangkas buah/daun yang terserang dan mengurangi kelembaban kebun.
    Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga Kasumin 5/75 WP
atau
    Cupravit OB 21.

2) Bercak daun

    Penyebab: jamur Cercospora sp. Gejala: daun berbercak-bercak merah
    kecoklatan dan di tengahnya berwarna putih. Pengendalian: dengan
sanitasi
    kebun, memangkas daun yang terserang dan fungisida Antracol 70-WP
atau
    Dithane M-45.

3) Kapang jelaga (sooty mould )

    Penyebab: jamur Capnodium sp. Gejala: sebagian atau seluruh permukaan
atas
    daun tertutup oleh lapisan hitam. Pengendalian kimia dengan
menyemprotkan
    bubuk belerang pada permukaan daun.

4) Karat merah (Red rust )

    Penyebab: jamur Cephaleuros virescens) Gejala: daun berbercak-bercak
bulat
    berwarna coklat, permukaan atas daun berbintik-bintik lembut.
Pengendalian
    dengan pemangkasan daun yang sakit dan sanitasi kebun serta fungisida
Antracol
    70 WP dan Dithane M-45.

8.   PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Tanaman berasal dari biji berbuah pada umur 4-5 tahun, dari enten pada
umur 3-4
tahun dan bila berasal dari cangkok pada umur 1-2 tahun. Pohon berbuah
bulan Mei-
Juni dan buah dipanen di bulan Agustus-September. Ciri buah yang dapat
dipanen
adalah sudah berukuran maksimal, umur 80 hari sejak berbunga, warna
kulit merah
merata, merah bergaris /putih bersih (tergantung dari jenis) dan buah
sudah agak
empuk dan agak harum.

8.2. Cara Panen

Buah dipetik dari rangkaiannya dengan hati-hati dan jangan sampai jatuh.

8.3. Periode Panen

Setiap musim dipetik 3-4 kali dengan interval 5 hari sekali.

8.4. Perkiraan Produksi

Buah jambu bol dapat dipanen dua kali dalam setahun, dengan hasil panen
ke dua
hanya 50% dari panen pertama. Produktivitas jambu bol merah Cianjur
berkisar
12,48-15,6 ton/musim/ha atau 18,72-23,4 ton/tahun/ha, jambu bol putih
congkili 78,0
ton/musim/ha atau 117,0 ton/tahun/ha. Produktivitas mulai menurun pada
waktu
tanaman berumur 30 tahun.

9.    PASCAPANEN

9.1. Pengumpulan

Buah hasil panen dikumpulkan dimasukkan ke dalam keranjang plastik dan
disimpan
sementara di ruangan yang sejuk dan. Buah dari jenis yang berbeda tidak
disatukan
dengan jenis yang lain.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan

Pisahkan buah cacat dari yang baik dan klasifikasikan buah berdasarkan
ukurannya.
Buah dicuci bersih dengan air mengalir/dialiri air kemudian ditiriskan
di rak
pengeringan.

9.3. Pengemasan dan Pengangkutan

Buah dikemas dalam kotak kardus/keranjang plastik dan disusun rapi agar
tidak
berpindah tempat selama pengangkutan. Sebaiknya buah disimpan dalam cold
storage jika tidak langsung diangkut ke pasar.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1.Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya jambu bol seluas 1 hektar dengan jarak tanam
8 x 8 m,
populasi 156 pohon di Jawa Barat pada tahun 1999.

1) Biaya produksi tahun ke-1
    1. Sewa lahan
Rp. 22.500.000,-
    2. Bibit 160 batang @ Rp. 3.000,-
Rp.        480.000,-
    3. Pupuk
       - Pupuk kandang 6 ton @ Rp. 150.000,-
Rp.        900.000,-
       - Urea 25 kg @ Rp. 1.500,-
Rp.         37.500,-
       - SP-36 25 kg @ Rp.1.900,-
Rp.         47.500,-
       - KCl 25 kg @ Rp. 1.800,-
Rp.         45.000,-
    4. Pestisida 4 liter
Rp.        625.000,-
    5. Tenaga kerja
       - Lubang tanam, ajir 15 HKP @ Rp. 7.500,-
Rp.        112.500,-
       - Beri pupuk 5HKP + 10 HKW @ Rp. 5.000,-
Rp.         87.500,-
       - Tanam 5 HKP + 6 HKW
Rp.         67.500,-
       - Pemeliharaan 40 HKP+20 HKW
Rp.        400.000,-

2) Biaya produksi tahun ke-2 s.d. ke-4
    1. Pupuk
       - Pupuk kandang 10 ton @ Rp. 150.000,-
Rp.      1.500.000,-

       - Urea 75 kg @ Rp. 1.500,-
Rp.        112.500,-
       - SP-36 50 kg @ Rp.1.900,-
Rp.         95.000,-
       - KCl 50 kg @ Rp.1.800,-
Rp.         90.500,-
    2. Pestisida 5 liter
Rp.        781.250,-
    3. Tenaga kerja
       - Tenaga pemeliharaan 50 HKP+50 HKW
Rp.        625.000,-
    4. Alat
Rp.        600.000,-

3) Biaya produksi tahun ke-5 s.d. ke-15
    1. Pupuk
       - Pupuk kandang 24 ton @ Rp. 150.000,-
Rp.    3.600.000,-
       - Urea 125 kg @ Rp. 1.500,-
Rp.        187.500,-
       - SP-36 300 kg @ Rp.1.900,-
Rp.        570.000,-
       - KCl 150 kg @ Rp. 1.800,-
Rp.        270.000,-
    2. Pestisida 7 liter
Rp.    1.093.750,-
    3. Alat
Rp.        450.000,-
    4. Tenaga kerja
       - Pemeliharaan 50 HKP + 60 HKW
Rp.        675.000,-
       - Panen & pasca panen 40 HKP + 50 HKW
Rp.        550.000,-
    Jumlah biaya produksi dalam 15 tahun
Rp. 118.704.000,-

4) Pendapatan dari hasil produksi (15 tahun) : 73,32 ton
Rp. 256.620.000,-

5) Keuntungan bersih 15 tahun
Rp. 138.546.000,-

6) Parameter kelayakan usaha
    1. B/C rasio
= 2,162

Panen dimulai pada tahun ke 5 dan keuntungan mulai diraih pada tahun ke
enam.

10.2.Gambaran Peluang Agribisnis

Dalam lima tahun terakhir, produksi buah jambu bol dapat dikatakan
selalu konstan.
Tidak adanya perubahan tingkat produksi mungkin disebabkan oleh tidak
ada/kurangnya penanaman tanaman baru. Jika kita perhatikan, pada musim
panen
jambu bol (Juli-September), buah ini tidak pernah melimpah di pasaran
dan
harganya mahal. Di luar negeri, Jambu bol dikatakan sebagai buah masa
depan
karena mulai digemari. Walaupun pemasaran di dalam negeri belum memadai
dan
peluang ekspor masih kecil, buah ini berprospek cerah terutama karena
nilai gizinya
yang baik dan bentuk serta citarasanya yang eksotik.

Harga buah ini di dalam negeri sangat baik, Di sekitar Padalarang, harga
1 kg jambu
ukuran besar dapat mencapai Rp. 15.000 dan yang terkecil Rp. 5.000.
Harga ini jauh
di atas harga buah-buahan lokal lainnya.

11. STANDAR PRODUKSI

11.1.Ruang Lingkup

Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara
pengambilan
contoh dan cara pengemasan.

11.2.Diskripsi

...

11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu

...

11.4.Pengambilan Contoh

Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat di bawah
ini. Dari
setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 buah dari bagian atas, tengah
dan
bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (startified random sampling)
sampai
diperoleh minimum 20 buah untuk dianalisis.
a. Jumlah kemasan dalam partai (lot) sampai dengan 100, contoh yang
diambil 5.
b. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 101 sampai dengan 300, contoh yang
diambil
    7.
c. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 301-500, contoh yang diambil 9.
d. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 501-1000, contoh yang diambil 10.
e. Jumlah kemasan dalam partai (lot) lebih dari 1000, contoh yang
diambil 15
    (minimum).

Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang
berpengalaman
atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.

11.5.Pengemasan

Jambu bol dikemas dengan peti kayu/bahan lain yang sesuai dengan berat
bersih
maksimum 30 kg. Dibagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan
antara lain:
nama barang, golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat
bersih,
negara/tempat tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.

12. DAFTAR PUSTAKA

1) Empep Sanusi. 1998. Jambu Bol "Si Mojang" berumur Genjah. Trubus no.
341.
2) Rahmat Rukmana, 1998. Ir. Budidaya Jambu Bol. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.

Sumber    : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan,
BAPPENAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s