Info Budidaya

Petunjuk Teknis Budidaya Durian (Durio zibethinus)

*Abdurahman

 Pendahuluan:

Durian merupakan tanaman asli Asia Tenggara yang beriklim tropika basah,khususnya di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Di indonesiapusat keragaman genetic terutama berada di Kalimantan (27 species)dan Sumatera ( 11 Species )varietas yang dibudidayakan umumnya berasal dari species Durio Zibethinus,misalnya Matahari, Sunan, Sitokong, Sukun, Petruk, Hepe, Otong dan Kani ( Introduksi dari Thailand )

Daerah pengembangan dan penyebarannya hamper keseluruh pelosok Indonesia, Sentra produksinya terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,Kalimantan Selatan,Jambi,Jawa Barat,jawa tengah dll.

Tanaman durian berukuran besar dan tingginya dapat mencapai 30 M, mempunyai akar tunggang dan akar samping yang kuat dan dalam. Perakaran ini baik untuk mencegah erosi lereng. Bunganya sempurna (satu bunga terdapat benagsari dan putik). Bunga keluar berkelompok pada cabang primer hingga sekunder (ranting). Bunga mekar pada sore hari, penyerbukan silang oleh serangga berlangsung tengah malam. Penyerbukan sendiri terjadi antara 5-10 %.

Kandungan Gizi :

Dalam 100g durian masak mengandung energi 147kkal,protein 2 g,lemak 1,2g,karbohidrat36,1g,Vitamin C 44 g,serat kasar 1,9 g,fosfor 56g,kalsium 18 g,Fe11 g,Thiamin 0,32 mg, Riboflavin 0,28 mg dan Niacin 11 mg.

Persaratan Tumbuhan.

Pada umumnya tanaman durian akan tumbuh secara optimal di daerah tropis dengan ketinggian 1 – 700 m.Dpl,dengan intensitas sinar matahari 60-80 %.Tanah yang cocok untuk tanaman durian adalah yang bersolum cukup dalam (lebih dari 150 cm )serta jenis tanah latosol, podsolik merah kunung, andosol,lempung berpasir yang subur dan memiliki banyak kandungan bahan organic.Keasaman tanah yang dikehendaki yaiti berkisar pada pH 6-7,Secara alamiah tanamandurian akan tumbih baik di daerah beriklim basah dengan curah hujan 1500-2500 mm pertahun.Curah hujan tersebut terdapat 9-12 bulan basah 0-3 bulan kering,kalau bulan kering lebih dari 3bulan maka perlu pengairan secara teratur untuk menjadi tanah tetap lembab.

Persiapan Tanam.

Sebelum penanaman lahan perlu dibersihkan dahulu dari batu-batu, tungul kayu, plastic dsb. Lubang tanam perlu dibuat setelah titik tanam dipastikan posisinya ukuran lubang tanam tergantung pada kondisi lahan, untuk tanah yang ukup gembur ukuran lubang tanam cukup 60x 60×60 cm, sedangkan untuk tanah yang tidak gembut ukuran lubang tanam 100x100x100 cm, jarak antara lubang tanam 10×10 m atau 8×8 m.

Isi Lubang Tanam .

Tanah galian dicampur dengan pupuk kandang yang telah masak sebanyak 20-30 kg. Untuk menghindari kendala tanah asam maka campurkan tanah dan pupuk kandang tersebut ditambahkan dolomite atau kapur pertanian sebanyak 0,5 kg/ lubang tanam, campuran tersebut dimasukkan ke dalam lubang tanam lalu diberi air bamboo atau kayu di tengah lubang tanam. Dan dibiarkan selama 3 minggu.

Penanaman.

Di tempat air ditancapkan, dibuat lubang tanam yang kira-kira lebar dan dalamnya lebih besar dari pada keranjang / polybag. Keranjang / polybag digunting pelan-pelan, tanah jangan sampai pecah, lalu dimasukkan dalam lubang tanam sedalam leher akar. Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat sinar matahari tidak terlalu terik, musim tanam sebaiknya pada awal musim penghujan.

Pemeliharaan.

a. Pemupukan.

Pupuk NPK (15.15.15) diberikan 6 bulan setelah tanam sebanyak 150 g/pohon, selanjutnya setiap 6 bulan sekali dipupuk dengan dosis ditambah 50-100 g/pohon dari dosis sebelumnya. Sedangkan pupuk kandang diberikan setahun sekali sebanyak 30-50 kg/pohon. Teknik pemberian pupuk kandang dapat dilakukan dengan cara membuat parit sedalam +  30 cm, yang melingkari tajuk tanaman, pupuk diberikan secara merata pada parit tersebut kemudian ditimbun kembali.

b. Pengairan

Waktu pemberian air diutamakan saat tanaman dipupuk, agar pupuk mudah larut sehingga mudah diserap oleh tanaman. Dengan mengalirkan air secukupnya pada bidang olah dibawah tajuk tanaman, untuk menghindari kebutuhan air ketika tanaman masih kecil perlu perhatian khusus jika ada hujan sebaiknya tanaman yang masih kecil dilakukan penyiraman 2 hari sekali sejak tanam sampai berumur 6 bulan.

c. Pengendalian hama.

  • Penggerakan batang.

Batang tanaman yang diserang hama nampak berlubang dan mengeluarkan cairan yang berwarna bening.

Pengendaliannya : Sanitasi lingkungan pertanaman dari sisa-sisa batang,daun tanaman dan rumput. Lubang yang digerek dipasak dengan bambu yang telah dicelupkan ke dalam larutan insektisida sistemik.

  • Trips

Hama ini menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman ( daun muda )dan tunas-tunas muda sehungga sel-sel tanaman menjadi rusak.Serangan berat akan menyebabkan tepi daun berkerut atau menggulung dan bila daun tersebut dibuka akan terdapat trips yang berklompok.

Pengendaliannya : Dengan menyemprotkan insektisida pada waktu tanaman keluar tunas-tunas muda.

Penggerek buah

Buah durian yang diserang penggerek buah,pada umumnya berumur 1-2 bulan.Dan buah durian akan berlubang dan berair kamudian jatu.

Pengendaliannya : Buah durian jika sudah berumur 1-2 bulan harus dilakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida agar buah tidak terserang penggerek buah.

d. Pemangkasan

Pemangkasan cabang yang tidak prodiktif (cabang yang kecil,dan tidak terkena sinar matahari,tunas wiwilan), bertujuan agar sinar matahari dapat masuk kebatang utama sehungga disekitar tajuk tanamna tidak terlalu lembab,diharapkan picisan dan lumut pertumbuhannya terhambat,dan untuk mempercepat terjadinya pembuangaan.

e. Penjarangan buah

Dilakukan untuk meningkatkan mutu buahnya penjarangan pada waktu buah berumur 2 bulan.Dalam satu klaster hanya disisakan satu buah,buah yang disisakan harus bagus bentuknya, sehat tidak cacat dan ukuran buah lebih besar dari buah yang dibuang.

f. Panen

Setelah buah durian berumur lebih dari 4 bulan pada umumnya buah durian sudah ada yang jatuh,setelah itu baru dilakukan pengikatan denga melakukan tali raffia,tujuan pengikatan agar buah durian yang matang tidak langsung jatuh.Karena  jika langsung jatuh ke tanah kebanyakan buah durian akan pecah dan rusak,daging buah akan berair serta daging akan terasa asam.Bila buah durian yang di ikat sudah lepas dari tangkainya/tergantung kira-kira 50 %, maka buah durian bisa dipanen semua karena dianggap sudah tua.

Manfaat

Buah durian matang,atau tepatnya arilusnya yang merupakan bagian yang dapat dimakan ,umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar.Buah durian diawetkan denag cara mengeringkan daging buahnya menjadi kue durian atau diolah menjadi dodol,dapat pula difermentasikan atau dijadikan asinan.Kini arilus durian juga diciutkan dan di bungkus, lalu dibekukan untuk memperpanjang penyediaan durian,dengan cara ini buah durian dapat di terima dipasarkan ekspor.Rasa durian lebih disenangi di dalam es krim dan kue-kue.

Biji durian yang telah direbus atau dibakar dimakan sebagai makanam kecil.

 DAFTAR PUSTAKA

 Anonim, Propil Perbenihan Tanaman Buah Seri Durian, ( Jakarta: Direktorat Perbenihan Dan Sarana Produksi Direktorat Jendral Hortikultura, 2007)

E.W.M. Verheij, R.E. Coronel, Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2 Buah-Buahan yang dapat dimakan ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997)

Sunarjono Hendro, Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah ( Jakarta: Penebar Swadaya, 2007)

Sunarjono Hendro, Ilmu Produksi Tanaman Buah-Buahan (Bandung: Sinar Baru, 1990)

PETUNJUK TEKNIS PEMBENIHAN TANAMAN DURIAN

*Abdurahman

Pendahuluan:

Durian merupakan tanaman asli Asia Tenggara yang beriklim tropika basah, khususnya di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Di Indonesia pusat keragaman genetik terutama berada di Kalimantan (27 species) dan Sumatera (11 species) varietas yang dibudidayakan umumnya berasal dari species Durio zibethinus, misalnya Matahari, Sunan, Sitokong, Sukun, Petruk, Hepe, Otong dan Kani ( Introduksi dari Thailand ). Durian adalah salah satu jenis buah yang mempunyai nilai ekonomi dan peluang pasar yang tinggi untuk dikembangkan. Dalam upaya pengembangan usaha agribisnis durian dukungan ketersediaan benih bermutu dari varietas unggul sangat menentukan keberhasilannya. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa ketersediaan benih bermutu masih menjadi kendala, sehingga masih banyak petani menggunakan  benih asalan.

Benih bermutu hanya dapat diperoleh melalui perbanyakan secara vegetatif yang berasal dari pohon induk yang sudah dilepas oleh Menteri Pertanian. Sampai dengan Februari 2010, varietas tanaman durian yang telah dilepas sebanyak 71 varietas. Keberadaan varietas-varietas tersebut tersebar di seluruh Indonesia.

Daerah pengembangan dan penyebarannya hampir keseluruh pelosok Indonesia, Sentra produksinya terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dll.

Tanaman durian berukuran besar dan tingginya dapat mencapai 30 M, mempunyai akar tunggang dan akar samping yang kuat dan dalam. Perakaran ini baik untuk mencegah erosi lereng. Bunganya sempurna (satu bunga terdapat benagsari dan putik). Bunga keluar berkelompok pada cabang primer hingga sekunder (ranting). Bunga mekar pada sore hari, penyerbukan silang oleh serangga berlangsung tengah malam. Penyerbukan sendiri terjadi antara 5 – 10 %.  Dalam 100 gr durian masak mengandung energi 147 kkal, protein 2 gr, lemak 1,2 gr, karbohidrat 36,1 gr, Vitamin C 44 gr, serat kasar 1,9 gr, fosfor 56gr, kalsium 18 gr, Fe11 gr, Thiamin 0,32 mg, Riboflavin 0,28 mg, dan Niacin 11 mg.

II. Persiapan lahan pembenihan

Dalam mendirikan suatu usaha pembenihan atau industri pembenihan tanaman durian diperlukan langkah-langkah persiapan yang merupakan persyaratan penting dan penguasaan teknologi pembenihan yang benar. Persiapan atau perencanaan berguna untuk mengantisipasi kendala-kendala yang mungkin terjadi serta kegagalan dalam usaha pembenihan durian yang akan dilaksanakan. Persiapan yang harus dilakukan adalah :

  1. Penentuan lokasi. Lokasi untuk pembenihan durian sangat menentukan bagi berhasil tidaknya usaha tersebut. Dalam menentukan lokasi untuk memproduksi jenis durian yang perlu di perhatikan adalah sumber air. Lokasi pembibitan harus dekat dengan sumber air.  Tanaman durian yang menghendaki kesuburan tanah yang cukup, tanah yang disukai adalah tanah yang ringan sampai sedang, gembur dengan areal dan drainase yang baik.
  2. Buat sketsa area pembenihan dan lakukan pengukuran luas lahan pembenihan.
  3. Lakukan pengaplingan lahan sesuai dengan kontur tanah dan arah sinar matahari.
  4.  Lakukan penebangan tanaman yang tidak diperlukan dan pembersihan gulma.

III. Penyediaan pohon induk / batang atas

Dalam usaha pembenihan / perbanyakan benih diperlukan penyediaan bahan tanaman yang berasal dari pohon induk  yang varietasnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian, sehat, dan baik pertumbuhannya. Untuk disatukan dengan batang bawah.

Batang atas yang baik adalah sebagai berikut :

  • Produksi buah yang tinggi.
  • Rasa buah disukai oleh banyak orang.
  • Tanah terhadap hama dan penyakit.
  • Mempunyai sifat-sifat unggul lainnya yang disenangi banyak orang (bentuk dan warna).

IV.   Persiapan batang bawah

Perbanyakan batang bawah dilakukan secara generatif atau dengan biji yang berasal dari tanaman durian yang mempunyai perakaran yang baik dan kuat, mempunyai daya adaptasi tumbuh yang tinggi pada berbagai jenis kondisi lahan dan kompatibel dengan batang atasnya. Biji yang digunakan berasal dari buah yang telah tua (matang) dan  diseleksi dengan kriteria: tidak cacat, bernas, sudah berwarna kecoklatan, dan tidak rusak oleh hama. Persemaian dibuat dengan cara membuat bedengan dengan ukuran tinggi 30 cm lebar 100 cm panjang tergantung lahan yang ada, plasenta diletakan ke dalam tanah persemaian sedalam 2 cm dengan jarak tanam 2 X 2 cm. Biji yang sudah ditanam ditimbun dengan tanah sampai bijinya tertutup. Kecambah durian akan muncul + dua minggu setelah tanam.

Benih di persemaian dipindahkan ke polybag sebelum daun-daunnya terbuka yaitu 3 – 4 minggu  setelah semai. Pemindahan dilakukan secara dicabut akar yang terlalu panjang dipotong disisakan 5 cm. Polybag yang digunakan berukuran 15 X 20 cm. Polybag diisi dengan campuran tanah dan pupuk kandang domba dengan perbandingan 3 bagian tanah 1 bagian pupuk kandang. Benih yang dipindahkan ke polybag dipilih yang sehat dan pertumbuhannya subur. Penyiraman bibit dilakukan dua hari sekali bila tidak turun hujan.

Gambar 2.  Pemindahan batang bawah dari persemaian ke Polybag

Batang bawah yang baik adalah sebagai berikut :

  • Perakaran kuat dan pertumbuhan baik dan normal.
  • Tahan terhadap kekeringan pada saat kemarau atau berlebihan air pada musim hujan.
  • Tahan terhadap hama dan penyakit.
  • Pertumbuhan batang bawah dan batang atas seimbang.

V. Okulasi

Okulasi  dilakukan pada saat pohon pangkal (batang bawah) dan cabang okulasi (batang atas) sedang dalam media pertumbuhan aktif agar tempelan berhasil baik. Pada saat demikian keduanya akan mudah bersatu. Batang bawah tersebut ditandai dengan mudahnya kulit batang dikelupas, umur batang bawah siap okulasi antara 3 – 5 bulan. Waktu penempelan dilakukan saat pohon induk (batang atas) tidak berbunga atau berbuah. Pengambilan cabang okulasi sebaiknya menjelang musim kemarau. Batang bawah pada bagian atas  kulitnya dikerat kemudian ditarik kebawah sepajang 2 cm, sehingga menjulur seperti lidah, selanjutnya lidah dipotong dua pertiganya. Tinggi  daerah okulasi dari leher akar adalah 10-15 cm.

Mata tempel (entres) dari cabang durian segera diambil dengan cara mengelupas kulitnya dengan silet dari cabang entres. Ukuran mata tempel diambil disesuaikan dengan ukuran jendela yang telah dibuat pada batang bawah. Selanjutnya mata tempel ditempelkan kecelah batang bawah. Sisa kulit batang bawah atau lidah yang digunakan sebagai penyangga mata tempel, kemudian diikat dengan tali plastik elastis tranparan  dengan model susunan genting. Pengikatan dimulai dari bawah ke atas supaya air tidak masuk. Agar tunas baru berkembang dengan baik, bakal tunas dari mata tempel tidak ditutup.

Ikatan okulasi dibuka setelah 2 minggu dari okulasi. Pada okulasi yang jadi batang bawah dipotong setinggi 5-10 cm di atas daerah okulasi dengan meninggalkan dua helai daun, agar makanan yang tersedia pada tanaman sebagian besar disalurkan kemata tunas okulasian sehingga lebih cepat tumbuh. Setelah tunas okulasi tumbuh dengan 4-6  helai daun sempurna, batang bawah dipotong dengan jarak 2 cm atas bidang okulasi.

Salah satu faktor keberhasilan okulasi adalah kondisi entres (batang atas) yang akan di tempel pada tanaman yang akan kita okulasi. Kondisi entres yang harus diperhatikan adalah kesehatan, cadangan makanan dan hormon yang terdapat dalam entres, pengeratan, entres merupakan salah satu cara untuk meningkatkan cadangan makanan dalam entres. okulasi dapat berhasil dengan baik pada tanaman yang kulitnya mudah dikupas dari kayunya, yaitu tanaman yang masih aktif dalam pertumbuhannya.

Okulasi sebaiknya dilakukan pada waktu akhir musim hujan karena tanaman dalam keadaan pertumbuhannya aktif, tetapi apabila terlalu banyak hujan kemungkinan kegagalan  akan lebih besar karena air akan masuk kedalam mata okulasi sehingga menyebabkan kebusukan pada tunas.

Gambar 3. Benih durian hasil okulasi siap dipasarkan

VI.  Penyambungan (Sambung pucuk)

Penyambungan adalah serangkayan kegiatan penyatuan dua tanaman menjadi satu, dilakukan dengan menyisipkan batang atas (entres) ke batang bawah yang sudah kokoh perakarannya (berumur 2 – 3 bulan dari semai). Batang bawah dipotong pada ketinggian + 15 cm di atas cicin kotiledon, pada ujung potongan batang bawah tersebut dibelah  dua ke bawah sepanjang 2 cm sehingga menjadi dua bagian yang sama besar. Batang atas (entres) dipotong 10 – 15 cm dari pucuk (3 – 5 ruas), diameterbatang atas harus sama atau lebih kecil sedikit dengan diameter batang bawah. Pangkal batang atas disayat kedua sisinya sepanjang 2 cm sehinggga menyerupai huruf “V”. Pangkal batang atas yang telah disayat disisipkan ke batang bawah yang telah dibelah, sehingga bekas sayatan tertutup oleh belahan batang bawah. Kemudian bidang sambungan diikat dengan tali plastik elastis (pengikatan dilakukan dari bawah ke atas), dan segera disungkup dengan kantong plastik tranparan, ujung kantong plastik sungkup diikat di bawah bidang sambungan untuk menjaga kelembaban dan mengurangi penguapan. Sungkup dibuka setelah mata tunas batang atas pecah tunas (berumur 3 – 4 minggu setelah penyambungan), sedangkan ikatan pengambungan dibuka setelah berumur 2 – 3 bulan dari penyambungan.    

VII.  Pemeliharaan pembenihan

  • Penyiraman dilakukan dua hari sekali bila tidak turun hujan
  • Penyiangan gulma dilakukan dua minggu sekali
  • Pemupukan dengan NPK dilakukan satu bulan sekali
  • Untuk mengendalikan hama penyakit dilakukan penyemprotan insektisida, fungisida dan pupuk daun setiap dua seminggu sekali

VIII.  Sertifikasi benih

Untuk memberikan perlindungan kepada petani dan masyarakat pengguna benih, serta menjamin mutu benih dan meningkatkan daya saing produsen benih, pemerintah telah mengeluarkan arahan dan petunjuk dalam memproduksi benih buah-buahan. Perbanyakan benih durian yang benar adalah melalui perbanyakan klonal dengan pola BF-BPMT-BPB sehingga benih yang dihasilkan jelas alur dan asal usulnya serta kualitsnya dalam proses atau tahapan produksi benih durian ini, akan diawali dan diperiksa oleh unit pengawasan mutu dan sertifikasi benih (BPSBTPH) yang ada pada masing-masing wilayah atau propinsi. Proses sertifikasi benih diawali dengan permohonan sertifikasi secara tertulis oleh produsen benih kepada BPSBTPH yang ditindak lanjuti dengan pemeriksaan oleh BPSBTPH.

Proses pemeriksaan perbanyakan benih klonal durian oleh BPSBTPH adalah sebagai berikut :

  • Pemeriksaan pendahuluan : sebelum okulasi
  • Pemeriksaan lapangan.I : saat okulasi
  • Pemeriksaan lapangan.II: tiga bulan setelah okulasi
  • Pemeriksaan Lapang. III : tujuh hari sebelum disalurkan setelah melalui tahapan pemeriksaan tersebut selanjutnya :
  • Calon benih dari BF oleh BPSPTH akan diberi label putih sebagai Benih Dasar untuk perbanyakan benih selanjutnya jika telah lulus dalam pemeriksaan.
  • Calon benih dari BPMT oleh BPSPTH akan diberi label ungu sebagai Benih Pokok untuk perbanyakan benih selanjutnya jika telah lulus dalam pemeriksaan.
  • Calon benih dari BPB oleh BPSBPTH akan diberi label biru sebagai benih sebar jika lulus dalam pemeriksaannya, untuk siap disalurkan dan diedarkan dalam pemasaran benih dan atau digunakan untuk produksi buah durian.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Propil Perbenihan Tanaman Buah Seri Durian, ( Jakarta: Direktorat Perbenihan Dan Sarana Produksi Direktorat Jendral Hortikultura, 2007)

E.W.M. Verheij, R.E. Coronel, Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2 Buah-Buahan yang dapat dimakan ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997)

Sunarjono Hendro, Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah ( Jakarta: Penebar Swadaya, 2007)

Sunarjono Hendro, Ilmu Produksi Tanaman Buah-Buahan (Bandung: Sinar Baru, 1990)

PETUNJUK TEKNIS PEMBENIHAN NANGKA

*Abdurahman

PENDAHULUAN:

Nangka ( Antocarpus hederophyllus Lamk ) bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari India Selatan dan dahulu tumbuh secara liar disana sejak sejarah belum dibukukan, nangka telah dibudidayakan, diintroduksikan dan menjadi tumbuh dalam berbagai bagian daerah tropis, terutama diwilayah Asia Tenggara. Jenis yang banyak berkembang adalah nangka seperti nagka bubur, nangka celeng, nangka dulang, nangka kandel, nangka hutan, nangka kunir, nangka merah, nangka salak dan nangka kecil ( nangka mini ) Artocarpus integra disebut juga nangka genjah contohnya nangka  mini.

Daerah pengembangan dan persebarannya lebih banyak kedaerah tropis, pembudidayaannya relatif mudah sehingga tersebar hampir keseluruh pelosok di Indonesia. Sentra produksinya terdapat di Kalimantan selatan, Kalimantan timur, Jawa timur, Jawa barat, Sumatera Barat, dan DKI Jakarta.

Daging buah nangka mudah dimasak sebagai sayuran, dibuat asinan, dikalengkan dalam air garam, atau dijadikan kare. Daging buah nangka matang dimakan dalam keadaan segar, atau diolah menjadi berbagai makanan khas daerah seperti dodol, kolak, kripik, chutney, selai, jeli, dan pasta. Juga diawetkan sebagai kue-kue dngan cara pengeringan atau dicampur gula, madu atau sirop. Daging buah nangka juga digunakan untuk mengharumkan ice cream dan minuman atau digunakan madu nagka, konsentra atau tepung dan dimanfaatkan dalam pembuatan minuman. Penambahan wewangian sintetik sepeti ester asam 4- hidroksibutirat sangat memperbaiki wangi buah nagka kalengan dan nektar nangka. Biji nangka dimakan setelah direbus atau di sangrai, atau dikeringkan atau digarami sebagai buah meja, dapat pula ditunbuk dijadikan tepung yang dicampurkan ke dalam tepung gandum untuk pembuatan roti.

Dalam 100 g nangka masak mengandung energi 301 kkal, protein 1,6 g, karbohidrat 25,4 g, vitamin A 66 iu, vitamin C 7,9 iu, niacin 0,4 mg, riboflavin 0,06 mg, Ca 37 mg, p 26, k 292 mg, besi 1,7 mg dan Na 48 mg.

Daun nangka muda dapat langsung dimakan oleh sapi atau ternak lain, kulit kayu digunakan untuk membuat tali atau kain, suatu zat warna kuning yang diesktrak dari partikel kayunya digunakan untuk warna jubah sutra atau katun untuk pendeta budha, getahnya digunakan untuk perangkap burung, perekat poslen dan untuk menambal perahu. Kayu nangka digunakan untuk pembuatan mebel, konstruksi bangunan, pembuatan tiang kapal, dayung, perkakas dan alat musik. Kayu nangka tergolong kayu setengah keras, dan tahan terhadap serangan rayap, pembusukan oleh jamur, dan bakteri mudah dikerjakan dan akan mengkilat jika disemir.

Perbanyakan tanaman nangka dengan cara okulasi terbukti menghasilkan bibit berkualitas baik. Apabila dibandingkan cara sambung, cara okulasi lebih mudah pengerjaanya dan presentase bibit jadi lebih baik.

  1. I.       Syarat Tumbuh:

Nangka merupakan tanaman asli daerah tropis . oleh karenanya tanaman ini akan tumbuh dan berkembang dengan baik dalam kondisi alam tropis. Agar di peroleh hasil produksi yang baik, perlu diketahui persyaratan tumbuh tanaman nangka.

Curah hujan yang dikehendaki tanaman nangka berkisar antara 2500-3000 mm/tahun. Nangka lebih senang pada daerah yang basah namun yang perlu persinaran cukup dan ketinggian yang cocok berkisar 1-700 m di atas permukaan laut, dengan kelembapan udara berkisar 70-80 %.

Tanaman nangka dapat dipelihara pada berbagai tipe tanah, tetapi lebih menyenangi tanah aluvial, tanah liat berpasir atau liat berlempung yang dalam dan beririgasi baik, dengan pH 6,0-7,5.

II. Persiapan lahan pembenihan

Dalam mendirikan suatu usaha pembenihan atau industri pembenihan tanaman nangka diperlukan langkah-langkah persiapan yang merupakan persyaratan penting dan penguasaan teknologi pembenihan yang benar. Persiapan atau perencanaan berguna untuk mengantisipasi kendala-kendala yang mungkin terjadi serta kegagalan dalam usaha pembenihan  yang akan dilaksanakan. Persiapan yang harus di lakukan adalah :

  1. a.      Penentuan lokasi. Lokasi untuk pembenihan nangka sangat menentukan bagi berhasil tidaknya usaha tersebut. Dalam menentukan lokasi untuk memproduksi jenis nangka yang perlu di perhatikan adalah sumber air. Lokasi pembibitan harus dekat dengan sumber air.
  2. Kesuburan tanah. Tanaman nangka menghendaki kesuburan tanah yang cukup, tanah yang disukai adalah  tanah aluvial, tanah liat berpasir atau liat berlempung yang dalam dan beririgasi baik
  3. c.       Buat sketsa area pembenihan dan lakukan pengukuran luas lahan pembenihan.
  4. d.      Lakukan pengaplingan lahan sesuai dengan kontur tanah dan arah sinar matahari.
  5. e.        Lakukan penebangan tanaman yang tidak diperlukan dan pembersihan gulma.

III.  Penyediaan pohon induk / batang atas

Dalam usaha pembenihan / perbanyakan benih diperlukan penyediaan bahan tanaman yang berasal dari pohon induk  yang varietasnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian, sehat, dan baik pertumbuhannya. Untuk disatukan dengan batang bawah.

Batang atas yang baik adalah sebagai berikut :

  • Produksi buah yang tinggi.
  • Rasa buah disukai oleh banyak orang.
  • Tanah terhadap hama dan penyakit.
  • Mempunyai sifat-sifat unggul lainnya yang disenangi banyak orang (bentuk dan warna).

IV.   Persiapan batang bawah

Perbanyakan batang bawah dilakukan secara generatif atau dengan biji yang berasal dari tanaman nangka yang mempunyai perakaran yang baik dan kuat, toleransi tinggi terhadap hama dan penyakit dan  mempunyai daya adaptasi tumbuh yang tinggi pada berbagai jenis kondisi lahan dan kompatibel dengan batang atasnya. Biji yang digunakan berasal dari buah yang telah tua (matang), bentuknya seragam dan berasal dari pohon terpilih.

Tahapan pelaksanaannya sebagai berikut:

  • Biji dipisahkan dari daging buahnya, dicuci hingga bersih, dikeringanginkan Biji di celupkan ke dalam larutan fungisida 0,2% selama 5 – 10 menit.
  • Persemaian dibuat dengan cara membuat bedengan dengan ukuran tinggi 30 cm lebar 100 cm panjang tergantung lahan yang ada.
  •  Biji biji ditanam pada  persemaian  dengan jarak tanam 2 X 2 cm. Biji yang sudah ditanam ditimbun dengan tanah sampai bijinya tertutup.
  • Selama dipersemaian tidak boleh kekurangan air. Pada umur 2 minggu bibit akan berkecambah.
  • Benih di persemaian  dipindahkan ke dalam polybag setelah berumur 3 – 4 minggu dan daun batang bawah belum membuka. Polybag digunakan berukuran 15 X 20 cm.
  •  Polybag diisi dengan campuran tanah dan pupuk kandang  dengan perbandingan 3 bagian tanah 1 bagian pupuk kandang.
  • Benih yang dipindahkan ke polybag dipilih yang sehat dan pertumbuhannya subur.
  • Lakukan penyiraman calon batang bawah dua hari sekali bila tidak turun hujan, penyiangan gulma yang tumbuh dan penyemprotan pupuk daun, insektisida dan fungisida dengan interval 2 minggu sekali.

 V.  Okulasi

Pengokulasian harus dilakukan pada saat pohon induk dan cabang okulasi sedang dalam masa pertumbuhan aktif agar tempelan berhasil baik. Pada saat demikian keduanya akan mudah bersatu.

Pada batang bawah saat  ditandai dengan mudahnya kulit batang dikelupas, umur batang bawah siap okulasi antara 3 sampai 4 bulan. Penempelan dilakukan saat pohon induk tidak berbunga dan berbuah, pengambilan cabang okulasi sebaiknya sebelum berbunga atau setelah panen.

Batang bawah pada bagian atas  kulitnya dikerat kemudian ditarik kebawah sepajang 2 cm, sehingga menjulur seperti lidah, selanjutnya lidah dipotong dua pertiganya. Tinggi  daerah okulasi dari leher akar adalah 10-15 cm.

Mata tempel (entres) dari cabang nangka segera diambil dengan cara mengelupas kulitnya dengan pisau okulasi atau silet dari cabang entres. Ukuran mata tempel diambil disesuaikan dengan ukuran jendela yang telah dibuat pada batang bawah. Selanjutnya mata tempel ditempelkan kecelah batang bawah. Sisa kulit batang bawah atau lidah yang digunakan sebagai penyangga mata tempel, kemudian diikat denga tali plastik elastis tranparan  dengan model susunan genting. Pengikatan dimulai dari bawah ke atas supaya air tidak masuk. Agar tunas baru berkembang dengan baik, bakal tunas dari mata tempel tidak ditutup.

Ikatan okulasi dibuka setelah 2 minggu dari okulasi. Pada okulasi yang jadi batang bawah dipotong setinggi 5-10 cm di atas daerah okulasi dengan meninggalkan dua helai daun, agar makanan yang tersedia pada tanaman sebagian besar disalurkan kemata tunas okulasian sehingga lebih cepat tumbuh. Setelah tunas okulasi tumbuh dengan 4-6  helai daun sempurna, batang bawah dipotong dengan jarak 2 cm atas bidang okulasi.

Okulasi adalah perbanyakan benih dengan cara menempelkan atau menyambung suatu mata tunas (entres) dengan tanaman lain yang sejenis. Mata tunas di ambil dari pohon induk yang telah terbukti menghasilkan buah bersifat unggul.

Keuntungan yang bisa didapat dari okulasi adalah sebagai berikut :

1.) Diperoleh tanaman baru yang memiliki sifat-sifat sesuai dengan yang diinginkan secara cepat.

2.) Batang bawah tanaman yang di okulasi tidak banyak menderita kerusakan seperti yang terjadi sambung dan cangkokan.

3.) Okulasi pada umumnya menghasilkan bibit dengan perakaran yang lebih baik di bandingkan cangkokan karena  batang bawah berasal dari biji.

4.) Batang atas dapat berpengaruh baik terhadap batang bawah.

5.) Mempersingkat fase vegetatif non produktif sehingga dapat mempercepat waktu berbuah dan

6.) Dapat memperbaiki struktur kanopi serta meningkatkan nilai estetika tanaman

Salah satu faktor keberhasilan okulasi adalah kondisi entres (batang atas) yang akan ditempel pada tanaman yang akan kita okulasi. Kondisi entres yang harus diperhatikan adalah kesehatan, cadangan makanan dan hormon yang terdapat dalam entres, pengeratan, entres merupakan salah satu cara untuk meningkatkan cadangan makanan dalam entres. Okulasi dapat berhasil dengan baik pada tanaman yang kulitnya mudah dikupas dari kayunya, yaitu tanaman yang masih aktif dalam pertumbuhannya.

Okulasi sebaiknya dilakukan pada waktu akhir musim hujan karena tanaman dalam keadaan pertumbuhannya aktif, tetapi apabila terlalu banyak hujan kemungkinan kegagalan  akan lebih besar karena air akan masuk ke dalam mata okulasi sehingga menyebabkan kebusukan pada tunas.

VI.  Pemeliharaan pembenihan

  • Penyiraman dilakukan dua hari sekali bila tidak turun hujan
  • Penyiangan gulma dilakukan dua minggu sekali
  • Pemupukan dilakukan setelah okulasi atau sambungan mengeluarkan daun baru setiap satu bulan sekali  dengan NPK (15:15:15) dengan dosis 0,5 g per tanaman.
  • Untuk mengendalikan hama penyakit dilakukan penyemprotan insektisida, fungisida dan pupuk daun setiap dua seminggu sekali

VII.  Sertifikasi benih

Untuk memberikan perlindungan kepada petani dan masyarakat pengguna benih, serta menjamin mutu benih dan meningkatkan daya saing produsen benih, pemerintah telah mengeluarkan arahan dan petunjuk dalam memproduksi benih buah-buahan. Perbanyakan benih nangka yang benar adalah melalui perbanyakan klonal dengan pola BF-BPMT-BPB sehingga benih yang dihasilkan jelas alur dan asal usulnya serta kualitsnya dalam proses atau tahapan produksi benih nangka ini, akan diawali dan diperiksa oleh unit pengawasan mutu dan sertifikasi benih (BPSBTPH) yang ada pada masing-masing wilayah atau propinsi. Proses sertifikasi benih diawali dengan permohonan sertifikasi secara tertulis oleh produsen benih kepada BPSBTPH yang ditindak lanjuti dengan pemeriksaan oleh BPSBTPH.

Proses pemeriksaan perbanyakan benih buah-buahan  oleh BPSBTPH adalah sebagai berikut :

  • Pemeriksaan pendahuluan : sebelum okulasi
  • Pemeriksaan lapangan.I : saat okulasi
  • Pemeriksaan lapangan.II: tiga bulan setelah okulasi
  • Pemeriksaan Lapang. III : tujuh hari sebelum disalurkan setelah melalui tahapan pemeriksaan tersebut selanjutnya :

Calon benih dari BF oleh BPSPTH akan diberi label putih sebagai Benih Dasar untuk perbanyakan benih selanjutnya jika telah lulus dalam pemeriksaan.

Calon benih dari BPMT oleh BPSPTH akan diberi label ungu sebagai Benih Pokok untuk perbanyakan benih selanjutnya jika telah lulus dalam pemeriksaan.

Calon benih dari BPB oleh BPSBPTH akan diberi label biru sebagai benih sebar jika lulus dalam pemeriksaannya, untuk siap disalurkan dan diedarkan dalam pemasaran benih dan atau digunakan untuk produksi buah.

 DAFTAR PUSTAKA

 E.W.M. Verheij, R.E. Coronel, Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2 Buah-Buahan yang dapat dimakan ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997)

Sunarjono Hendro, Berkebun 21 Jenis Tanaman Buah ( Jakarta: Penebar Swadaya, 2007)

Sunarjono Hendro, Ilmu Produksi Tanaman Buah-Buahan (Bandung: Sinar Baru, 1990)

Iklan

Tentang kpcipaku

Kebun Percobaan Cipaku bearada di bawah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s