Info Harga

PEMASARAN USAHA PEMBIBITAN TANAMAN BUAH-BUAHAN
ASPEK PASAR

1. Permintaan

Berdasarkan hasil survei pada usaha pembibitan tanaman buah-buahan di Kabupaten Buleleng (Tabel 3.1.), dapat diketahui bahwa 90% bibit tanaman buah dipasarkan di luar Propinsi Bali dan hanya 10 % yang dipasarkan di dalam provinsi, sedangkan untuk ekspor tidak ada. Permasaran bibit di luar provinsi sebagian besar berada di Kawasan Indonesia Tengah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, NTB dan NTT, sedangkan bibit yang dipasarkan di pulau Jawa hanya sebagian kecil saja.

Tabel 3.1.
Daerah Penjualan Bibit Tanaman Buah

Daerah
Penjualan

Nama Daerah

Persentase

Dalam Kabupaten Buleleng 2%
Luar Kabupaten Tabanan, Gianyar, Badung, Karangasem, Klungkung, Negara 8%
Luar Provinsi Jatim, Jabar, Jateng, Kaltim, SUlteng, Sultra, Sulsel, NTB, NTT 90%

Sumber: Dinas Pertanian Kab. Buleleng Bali, 2005

Permintaan bibit tanaman buah-buahan dapat didekati dengan dengan luas areal tanam kebun buah di Indonesia (Tabel 3.2). Luas areal tanam di Indonesia untuk durian, pada tahun 2000 sebesar 23.021 ha meningkat menjadi 57.301 ha pada tahun 2005. Demikian juga untuk mangga dan rambutan, pada tahun 2000 luas areal tanam sebesar 44.185 ha dan 48.158 ha meningkat menjadi 182.728 ha dan 119.441 ha pada tahun 2005. Dengan asumsi bahwa semakin luas areal tanam durian, mangga dan rambutan maka semakin banyak permintaan terhadap bibit terutama bibit berlabel. Oleh karena itu prospek pengembangan usaha pembibitan tanaman buah-buahan masih cukup menjanjikan.

Tabel 3.2.
Luas Areal Tanam Kebun Buah di Indonesia (ha)

Tahun Durian Mangga Rambutan
2000 23.021 44.185 48.158
2001 49.812 44.208 63.463
2002 41.033 184.659 69.071
2003 53.770 158.894 90.928
2004 55.536 170.811 105.185
2005 57.301 182.728 119.441

Sumber : http://www.deptan.go.id
Keterangan : * Data estimasi

2. Penawaran
Penawaran bibit tananam buah dapat didekati dengan jumlah produksi bibit. Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng (Tabel 2.1), pada tahun 2005 penawaran bibit tanaman buah berlabel di wilayah ini berjumlah 281.288 bibit terdiri dari durian 105.879 bibit, rambutan 141.282 bibit dan mangga 34.127 bibit. Dengan asumsi bahwa 1 ha kebun mangga membutuhkan 300 bibit, 1 ha kebun durian membutuhkan 100 bibit dan 1 ha kebun rambutan membutuhkan 300-500 bibit maka jika melihat Tabel 3.2., jumlah bibit tanaman buah berlabel buah di wilayah ini masih kurang untuk mencukupi luas areal kebun buah di Indonesia.

Persaingan dan Peluang Pasar

Persaingan pasar bibit tanaman buah di Kabupaten Buleleng belum terasa menyulitkan para penangkar bibit saat ini. Penangkar bibit bersertifikat umumnya tidak takut kehilangan pelanggan karena bibit yang dijual adalah bibit berlabel dan terjamin kualitasnya. Jumlah penangkar bibit bersertifikat di wilayah Buleleng cukup banyak namun persaingan tidak terlihat. Hal ini disebabkan adanya sistem kekeluargaan yang terjalin erat antar sesama penangkar. Sebagai contoh apabila terdapat permintaan dalam jumlah besar dan tidak dapat dipenuhi oleh penangkar maka penangkar tersebut akan meminta suplai dari penangkar lain.

Menurut para penangkar, bibit tanaman buah di wilayah Buleleng masih diminati oleh konsumen. Bibit yang diproduksi penangkar umumnya terjual 70-100% dari total produksi bibit dan apabila terdapat bibit yang tidak terjual pada tahun tersebut, bibit masih dapat dipasarkan pada tahun berikutnya.

Seperti telah dijelaskan pada Tabel 1.1. di atas bahwa permintaan buah pada tahun 2010 diperkirakan akan mencapai 14 juta ton dan pada tahun 2015 diperkirakan akan mencapai 20 juta ton. Jumlah ini harus dipenuhi oleh produksi buah dalam negeri. Sebagai gambaran, menurut BPS produksi buah Indonesia pada tahun 2001 mencapai 9,96 juta ton, apabila kerusakan pasca panen hanya 20 % (perkiraan yang sangat optimis) dan ekspor buah 80 ribu ton maka buah yang mencapai meja makan adalah 7,17 juta ton, ditambah buah impor sebanyak 233 ribu ton. Jadi buah yang tersedia mencapai 7,40 juta ton masih jauh dari total konsumsi buah nasional.

Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu dilakukan penambahan luas areal tanam dan peningkatan mutu buah dengan cara penggunaan bibit berlabel. Namun jumlah penangkar bibit yang bersertifikat belum banyak, sebagai gambaran dapat dilihat pada lampiran 16, mengenai jumlah penangkar bibit yang mendapatkan pembinaan dari Departemen Pertanian RI. Oleh karena itu peluang pasar untuk usaha pembibitan tanaman buah-buahan saat ini cukup terbuka lebar.

Harga

Harga bibit tanaman buah-buahan ditentukan oleh tinggi tanaman dan sistem penjualan, eceran atau borongan. Semakin tinggi tanaman maka semakin mahal harga jualnya. Sebagai contoh harga jual bibit mangga Arumanis ukuran 30-40 cm adalah Rp 2500 sedang untuk bibit ukuran 60-70 cm harganya dapat mencapai Rp 7500. Apabila sistem penjualan bibit tanaman buah-buahan secara eceran maka harga bibit dapat meningkat sampai tiga kali lipat dibandingkan borongan/partai besar. Konsumen yang membeli eceran adalah konsumen perorangan dan konsumen yang membeli borongan/partai besar adalah pedagang (pengecer, perantara).

Berdasarkan hasil penelitian, pada tahun 2005 harga jual bibit secara borongan diambil secara rata-rata, untuk durian Kani ukuran 30-40 cm dijual Rp 4000 per bibit, mangga Arumanis ukuran 30-40 cm dijual Rp 2500 per bibit dan mangga Lalijiwa ukuran 30-40 cm dijual Rp 3500 per bibit sedangkan rambutan baik itu Binjai, Rapiah maupun Lebak Bulus ukuran 30-40 cm dijual Rp 2000 per bibit.

Tabel 3.3.
Perkembangan Harga Jual Bibit Tanaman Buah-buahan
Ukuran 30-40 cm dari tahun 2000-2005

Komoditi Harga Jual Bibit (dalam rupiah) pada Tahun
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Durian Kani 5.000 2.500 3.500 3.500 5.000 4.000
Mangga
  • Arumanis
2.000 2.000 2.000 3.000 3.000 2.500
  • Lalijiwa
3.500 3.500 3.500 3.500 3.000 3.500
Rambutan
  • Binjai
1.800 1.800 1.750 1.500 1.500 2.000
  • Rapiah
1.800 1.800 1.750 1.500 1.500 2.000
  • Lebak Bulus
1.800 1.800 1.750 1.500 1.500 2.000

Sumber : Data Primer

Pada tabel di atas menunjukkan harga jual bibit tanaman buah-buahan cukup berfluktuasi. Hal ini dikarenakan harga ditentukan oleh banyaknya permintaan. Pada saat permintaan bibit tinggi maka penangkar menaikkan harganya sedangkan jika permintaan berkurang maka penangkar menurunkan harga. Pada tahun 2000 harga durian Kani dapat mencapai Rp 5000,- per bibit namun pada tahun 2001 harga jualnya langsung jatuh hingga Rp 2500,- per bibit. Hal ini dikarenakan sedikitnya permintaan dan melimpahnya produksi bibit durian Kani.

Jalur Pemasaran Produk

Dalam hal pemasaran produk, pemasaran bibit tanaman buah tidak menemukan kendala. Penangkar umumnya tidak melakukan promosi. Hal ini dikarenakan pembeli biasanya datang sendiri ke penangkar atau meminta bantuan kepada Dinas Pertanian untuk mencarikan penangkar bibit tanaman buah.

Pemasaran bibit tanaman buah dilakukan melalui dua cara, yaitu penjualan secara langsung ke konsumen (perorangan) dan penjualan melalui pedagang (perantara, pengecer) kemudian ke konsumen (lembaga, perusahaan, kelompok atau perorangan). Penjualan sebagian besar melalui pedagang (perantara, pengecer) dan hanya sebagian kecil saja yang dijual secara langsung ke konsumen. Penjualan secara langsung ke konsumen dilakukan penangkar dari showroom yang umumnya berada di pinggir jalan. Bibit yang dijual umumnya melewati karantina dari BPSB terlebih dahulu agar bibit tersebut memperoleh label dan terjamin mutunya.

Sistem pembayaran dilakukan secara kontan atau cicilan tergantung dari kesepakatan. Namun umumnya penangkar menggunakan sistem pembayaran kontan. Hal ini dikarenakan pengalaman buruk yang menimpa penangkar. Untuk pembayaran cicilan, penangkar mensyaratkan kepada calon pembeli untuk memberikan uang muka 50 % dari total penjualan bibit dan sisanya harus dibayar lunas saat barang tiba di calon pembeli.

Gambar 3.1. Jalur pemasaran bibit tanaman buah-buahan

(a) Transportasi pemasaran dalam Bali (b) Transportasi pemasaran di luar Bali
Foto 3.1.
Sistem transportasi pemasaran bibit di dalam Bali hanya menggunakan kendaraan pick up karena kecilnya pesanan (a), sedangkan gambar (b) pemasaran bibit di luar pulau yang menggunakan truk

Kendala Pemasaran

Berdasarkan hasil wawancara dengan penangkar bibit, masalah yang dihadapi adalah ketergantungan pemasaran bibit terhadap order/pesanan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa sebagian besar pemasaran bibit melalui pedagang pengecer/pedagang perantara dan hal ini menimbulkan kesulitan-kesulitan lain. Kesulitan tersebut antara lain harga jual bibit yang tidak ditentukan oleh penangkar tetapi oleh pedagang. Selain itu informasi permintaan yang diterima tidak langsung ke penangkar tetapi melewati pedagang pengecer/pedagang perantara terlebih dahulu.

Hal-hal tersebut seringkali menjadi kendala bagi sebagian penangkar mengenai kelanjutan usaha di masa-masa yang akan datang apabila terjadi penurunan jumlah pesanan. Seperti diketahui bahwa bibit tanaman buah yang dijual secara langsung kepada pembeli di showroom hanya berkisar 10%.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pembentukan asosiasi penangkar bibit perlu dilakukan, meskipun terdapat sistem kekeluargaan antar penangkar namun keterikatan tersebut tidak tertulis dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Asosiasi berfungsi menyediakan informasi mengenai permintaan bibit dan perkembangan harga bibit buah-buahan, mengadakan promosi untuk memperkenalkan penangkar bibit kepada pembeli melalui pameran, bazar atau media lainnya.

dari : bi.go.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s